Materi Buletin As-Sajjad
Diterbitkan oleh Ikatan Remaja Kumayl pada 8 Rabiul Awwal 1429 H
Oleh : Ust. Husein Shahab
Banyak sekali ayat-ayat suci al-Quran yang menjelaskan kepada kita siapa itu Nabi Muhammad saw. Demikian juga tentang misi perjuangannya, tugas-tugasnya yang mulia bahkan akhlaknya yang sangat tinggi. Semakin kita merenungi ayat-ayat suci al-Quran yang memuji dan mendeskripsikan siapa itu Rasulullah, maka semakin kita kagum dan merasa takzim kepadanya.
Di antara ayat-ayat tersebut adalah firman Allah yang berbunyi laqad jaakum rasulun min anfusikum ‘azizun alaihi ma’anittum harishun ‘alaikum bil mukminina rauufur rahim; telah datang kepada kamu seorang Rasul dari kalanganmu sendiri, terasa berat baginya penderitaan kamu, sangat ingin kebaikan untuk kamu, dan sangat sayang dan kasih kepada orang-orang yang beriman.
Mari sama-sama kita perhatikan sejenak ungkapan Allah Swt tentang sifat-sifat mulia hambaNya yang agung tersebut. Maksud ayat di atas adalah betapa berat terasa bagi baginda Rasul penderitaan yang dialami ummatnya, dahulu dan sekarang, dan beliau menginginkan segala kebaikan bagi mereka, baik kebaikan material maupun kebaikan spiritual; kebaikan di dunia maupun kebaikan di akherat.
Sejarah telah menjadi saksi betapa besar peduli Rasulullah saw terhadap kehidupan ummatnya yang beragam ini. Ketika beliau mendengar ada di antara sahabatnya yang sakit maka beliau akan segera menjenguknya dan menghiburnya. Ketika Jabir bin Abdillah diketahuinya punya hutang yang banyak, beliau menawarkan diri untuk membayarkan seluruh hutangnya. Ketika beliau tahu ada sebagian dari sahabat-sahabatnya yang dhuafa tak memiliki rumah, beliau membikinkan tempat tinggal yang kemudian dikenal dengan nama ahlu suffah. Ketika mereka tak mampu mencari rizki untuk menghidupi diri mereka sendiri, beliau membuka rumahnya hampir setiap hari untuk menjamu mereka dan menyediakan makanan alakadarnya. Ketika beliau melihat ada sebagian dari sahabat-sahabatnya yang masih belum bisa baca tulis, beliau menyuruh tawanan-tawanannya yang bisa baca tulis untuk mengajarkan kepada mereka ilmu-ilmu dasar sebagai syarat pembebasan mereka. Bahkan Imam Ali berkata, ketika dalam peperangan yang paling kritis sekalipun, beliaulah yang justru lebih banyak melindungi para sahabatnya ketimbang para sahabat yang melindunginya.
Tak pernah terdengar bahwa beliau menghardik mereka, marah-marah kepada mereka, murka kepada mereka apalagi mengusir mereka dari agama yang dibawanya. Sebaliknya beliau justru menebarkan seluruh kasih sayangnya kepada semua mereka bahkan kepada seluruh alam semesta. Wa ma arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin.
Seorang pujangga Muslim, Iqbal, pernah berkata sedemikian besar keperduliannya kepada nasib ummat ini sehingga beliau rela keluar dari sorga yang Allah izinkan beliau masuk ke dalamnya di saat isra’ mi’raj, semata-mata karena beliau menginginkan setiap ummatnya bisa sampai ke sana dan menikmati anugerah Allah yang sama.
Keperdulian ini terus saja beliau tampakkan bahkan di akhir hayatnya sekalipun. Riwayat berkata, ketika nyawa mulia beliau sudah di ujung tenggorkannya kalimat terakhir yang terdengar keluar dari mulutnya adalah panggilan ummati, ummati, ummatku oh ummatku.
Dan saya yakin sekiranya Nabi masih hidup sampai sekarang maka beliau akan sangat peduli dan prihatin dengan kondisi ummatnya di saat ini. Beliau akan mengunjungi ummatnya yang hidup kembang kempis di rumah-rumah gubuk yang sudah reot; beliau akan terus memberi harapan kepada ummatnya yang terus dirundung duka; beliau akan memberi guru kepada ummatnya yang berada dalam kejahilan dan kebodohan; beliau akan terus memberi harapan kepada ummatnya yang terus ketinggalan dalam segala segi; dan beliau sekali-kali tidak akan menghardik apalagi menjatuhkan vonis sesat atau kafir kepada ummatnya yang sudah mengikrarkan dua kalimat asyhadu an la ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah. Justru beliau akan tebarkan segala kasih sayangnya kepada siapapun yang menyatakan dirinya sebagai Muslim.
Wa maa arsalnaaka illaa mubasysyiran wa nadziiran, sungguh Kami tidak utus engkau (wahai Muhammad) melainkan sebagai Rasul pembawa berita gembira (harapan) dan peringatan (bagi ummat manusia) (17:105) Sepanjang 63 tahun dari usia hidupnya beliau abadikan untuk memberikan seribu harapan bagi ummat manusia, dan terutama bagi kaum muslimin untuk mereka memperoleh kebahagiaan yang sejati dunia dan akherat. Apabila mereka lupa atau lalai maka Nabi yang agung ini akan mengingatkan mereka dan membangunkan mereka dari kelalaiannya.
Mari kita belajar dari sikap Nabi yang begitu memesona siapapun yang mendengarnya. Ketika beliau dizalimi dan dilempari batu-batu yang keras di Taif sampai wajah dan tubuhnya berlumuran darah, lalu malaekat datang menawarkan diri untuk membalikkan dua gunung yang ada di sekitar dan mengubur penduduknya hidup-hidup, apa yang kemudian dijawab oleh manusia yang agung ini. Beliau menjawab Allahuma ighfir qaumi fainnahum la ya’lamun, ya Allah maafkanlah kaumku karena mereka tidak tahu. Mari kita sayangi ummat Muhammad saw sebagaimana baginda kita menyayangi ummatnya.

0 Comments:
Posting Komentar